Mengenal Tradisi Gigi Hitam

Mengenal Tradisi Gigi Hitam

Berita Terbaru Tradisi ini dilakukan oleh wanita di Jepang dan Vietnam. Memiliki gigi yang putih adalah dambaan setiap orang. Bayangkan saja ketika kalian tersenyum maka yang pertama terlihat adalah sederetan gigi putih yang tentunya akan memberi kesan indah dan meningkatkan kepercayaan diri. Namun, tahukah kalian bahwa pada zaman dahulu, tren gigi dengan warna hitam sangat diminati oleh orang Jepang dan telah menjadi tradisi yang berlangsung berabad-abad. Meskipun tradisi ini identik dengan jepang, kebiasaan ini ternyata telah dilakukan di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, dan Amerika Selatan.

Tradisi yang dikenal dengan nama Ohaguro (dapat diterjemahkan sebagai ‘gigi menghitam’) adalah praktik di mana seseorang (umumnya wanita) mewarnai gigi mereka menjadi hitam. Pada zaman Edo sampai Restorasi Meiji (1868-1912), wanita yang sudah menikah dan beberapa bangsawan akan mengecat gigi mereka menjadi hitam. Kebiasaan ini tampaknya memiliki sejarah yang sangat panjang, bahkan sejak Periode Kofun (250-358), dan mungkin berasal dari Cina. Tulang-belulang dan tanah liat yang digali (disebut haniwa) menunjukkan jejak gigi hitam yang menunjukkan tradisi panjang dari ohaguro. Genji Monogatari, sebuah buku dari abad ke-12 yang dianggap sebagai novel pertama di dunia, menceritakan bahwa seni menghitamkan gigi memegang posisi yang menonjol dalam sejarah Jepang selama beberapa waktu.

Mengenal Tradisi Gigi Hitam

Ohaguro dijadikan sebagai simbol kekayaan dan kematangan seksual terutama bagi wanita Jepang. Untuk mendapatkan gigi yang hitam, wanita jepang harus rela mencelupkan giginya ke dalam larutan coklat gelap dari asetat besi yang disebut kanemizu (か ね み ず). Kanemizu dibuat dengan melarutkan serbuk besi dalam cuka. Ketika larutan tersebut dikombinasikan dengan tanin nabati dari sumber-sumber seperti bubuk Gallnut atau bubuk teh, larutan tersebut akan berubah menjadi hitam dan menjadi tidak larut dalam air. Fakta menarik dari pelapisan gigi dengan cairan ini adalah dapat membantu mencegah kerusakan gigi dan kerusakan enamel, seperti halnya pelapis fisura modern. Untuk mendapatkan warna hitam yang baik, pewarna harus diaplikasikan sekali sehari atau sekali dalam beberapa hari.

Pada tahun 1870, pemerintah Jepang resmi melarang praktik ohaguro sebagai langkah awal untuk memodernisasi pulau-pulau dan daerah terpencil. Pada tahun 1873, permaisuri Jepang muncul di depan umum dengan gigi putih yang sangat bertolak belakang dengan tradisi ohaguro. Kemunculan permaisuri jepang dengan gigi putihnya mempengaruhi wanita Jepang untuk meninggalkan praktik ohaguro. Hingga saat ini, jarang kita temui wanita jepang dengan gigi yang dicat hitam, namun beberapa dari mereka masih dapat dilihat di perempat Geisha, Kyoto.

Selain tradisi ohaguro pada masyarakat Jepang, praktik menghitamkan gigi juga terjadi di Vietnam. Kebiasaan ini berasal dari adanya kepercayaan spiritual yang meyakini bahwa gigi putih dan panjang adalah gigi hantu, binatang dan kaum barbar. Mereka meyakini bahwa dengan menghitamkan gigi, mereka akan terlindungi dari kekuatan jahat yang berbau mistis. Tradisi menghitamkan gigi perlahan menjadi bagian dari ritual untuk gadis muda yang akan memasuki usia dewasa dan menjadi simbol bahwa ia sudah siap untuk menikah. Untuk mendapatkan gigi yang hitam, 3 hari sebelum ritual berlangsung, mulut mereka harus dibersihkan dengan bubuk arang, garam dan lemon. Proses ini bertujuan untuk mengikis enamel alami gigi sehingga tinta dapat meresap ke dalam. Selama proses berlangsung, seorang gadis harus merasakan sakit dimana mulutnya akan mengalami bengkak dan nyeri.

Proses pewarnaan itu sendiri sangat rumit serta membutuhkan pewarna hitam alami seperti bot canh kien (lak) dan phen den (tanaman kentang). Ramuan diaplikasikan ke gigi setiap hari selama 7-10 hari dan selama proses berlangsung, seorang gadis dilarang mengkonsumsi makanan padat dan panas. Setelah gigi diwarnai, campuran penghitam yang berasal dari cangkang kelapa dan arang digunakan untuk menciptakan warna hitam yang sempurna. Untuk menjaga kehitaman gigi, seorang wanita akan mengunyah pinang secara rutin dan kadang kala mewarnai kembali gigi mereka.

Pada tahun 1900-an, pengaruh dari Prancis dan negara-negara barat lainnya mulai mengurangi praktik menghitamkan gigi pada masyarakat Vietnam dan perlahan-lahan digantikan oleh tren gigi putih.

Nah, sekarang kalian sudah tahu tentang salah satu tren masa lampau yang bisa dibilang aneh namun dianggap biasa pada eranya, namun patut kalian ingat bahwa tren boleh diikuti asalkan aman dan nyaman.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *