Dampak Akibat Tiket Pesawat Mahal, Mempengaruhi Ekonomi Kuartal I

Dampak Akibat Tiket Pesawat Mahal, Mempengaruhi Ekonomi Kuartal I

Berita Terbaru Diketahui bila pihak kementerian Koordinator bagian Perekonomian mengaku biaya tiket pesawat terbang yang mahal ikut menghalangi perkembangan ekonomi pada kuartal I kemarin. Bila biaya tiket tidak melonjak, perkembangan ekonomi semestinya dapat lebih dari 5,07 %.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), perkembangan ekonomi pada kuartal I 2019 sampai 5,07 %, cuma naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun kemarin sebesar 5,06 %.

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjelaskan selama ini warga cuma memahami jika ticket pesawat punya pengaruh ke tingkat kenaikan harga barang serta jasa (inflasi). Tetapi, bidang riil sebetulnya terpukul dengan keadaan itu.

Dampak Akibat Tiket Pesawat Mahal, Mempengaruhi Ekonomi Kuartal I

Dia mencontohkan, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA) sudah sempat menyalahkan turunnya perjalanan ke tujuan pariwisata domestik. Walau sebenarnya, pariwisata memiliki dampak penggada (multiplier effect) yang cukup kuat ke perekonomian, salah satunya lewat bidang usaha oleh-oleh.


“Kami tidak ingin mengatakan angka perkembangan ekonomi semestinya berapakah bila biaya pesawat tidak naik, tetapi memang menurut penghitungan kami, perkembangan ekonomi semestinya dapat lebih dari 5,07 %,” jelas Susiwijono, Rabu 10 Juli 2019.

Tidak cuma masalah pariwisata, ticket pesawat yang mahal mempersulit proses birokrasi. Beberapa kepala wilayah yang bekerja ke Jakarta, menurutnya, sekarang terus menyalahkan biaya pesawat yang mahal.

“Karena itu mengapa pemerintah benar-benar concern sekali dengan biaya pesawat ini. Sebab tidak cuma segi ekonomi makro, tetapi beberapa pemda juga merintih ke kami,” papar ia.

Oleh karena itu, dia mengharap kebijaksanaan biaya potongan harga 50 % di jam-jam tersendiri pada Selasa, Kamis, serta Sabtu ini dapat kembali menggiatkan bidang riil. Dengan begitu, perkembangan ekonomi dapat kuat kembali di paruh ke-2 tahun ini. Dia mengaku proses pengerjaan kebijaksanaan ini memerlukan waktu yang lumayan panjang karena hitung yang termasuk susah. Tetapi, pemerintah pada akhirnya dapat cari sela dari jam penerbangan yang mempunyai frekwensi penumpang lebih dikit dari umumnya (low hours).

“Serta hasilnya kami telah menyepakati jika ada 62 rute Citilink yang dapat mendapatkan biaya potongan harga serta 146 rute Lion Air yang memperoleh kebijaksanaan sama,” lanjut ia.

Awalnya, Kepala Tubuh Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyangka kenaikan ticket pesawat jadi biang keladi perkembangan ekonomi kuartal I cuma 5,07 %. Dampak itu tercermin dari perkembangan mengonsumsi warga yang cuma tumbuh 5,01 %.

Menurutnya, perkembangan mengonsumsi warga untuk transportasi serta komunikasi cuma 4,91 % di tahun ini atau melambat dibandingkan tahun awalnya 4,96 %. Selanjutnya, mengonsumsi restoran serta hotel melambat dari 5,64 % di tahun kemarin jadi 5,42 %. Dia katakan, hal itu tidak terlepas dari kenaikan harga ticket pesawat sebagai momok semenjak awal tahun ini. Kenaikan biaya pesawat, lanjut ia, memengaruhi jumlahnya pemakai pesawat domestik pada kuartal I.

Mengenai, BPS mencatat keseluruhan penumpang pesawat domestik Januari sampai Maret tahun ini di angka 18,32 juta orang, atau turun 17,66 % dari tahun awalnya 22,25 juta orang.

“Serta kami mencatat tingkat tempat tinggal kamar turun juga, hingga ticket pesawat yang mahal berperan ke penurunan mengonsumsi itu,” kata Suhariyanto.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *