Mengenang kembali Peristiwa Lapindo

Mengenang kembali Peristiwa Lapindo

Berita Terbaru Sedih yang dalam, demikianlah raut muka Abdul Fattah, pengasuh Pondok Pesantren Atthdzib di Desa Kedungbendo, Tanggulangin. Maklum, semenjak Mei 2006 lalu, semburan lumpur panas yang selanjutnya ramai diketahui dengan Lumpur Lapindo mengalir tiada henti di wilayahnya.

Semburan itu datang dari Sumur Banjarpanji 1, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang dibor oleh Lapindo Brantas Inc. Lapindo Brantas Inc adalah perusahaan yang 100 % sahamnya dipunyai oleh PT Energi Mega Persada lewat anak upayanya PT Kalila Energy Ltd serta Pan Asia Enterprise. Perusahaan itu ada dibawah naungan Barisan Usaha Bakrie.

Dia menceritakan semburan Lumpur Lapindo pertama-tama berlangsung pada Mei 2006. Semburan awalannya berlangsung di Desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo.

Mengenang kembali Peristiwa Lapindo

Dalam hitungan beberapa minggu, semburan menenggelamkan komplek pesantren seluas 2000 mtr. persegi yang diurusnya semenjak 1995 tanpa ada tinggalkan sisa. Karena insiden itu, dia harus memulangkan santrinya ke kampung halamannya semasing.


“Kegiatan pesantren juga lumpuh keseluruhan sebab harus beralih ke pengungsian,” tuturnya pada minggu ini.

Tidak cuma Fattah, rasa sedih dihadapi oleh warga lain. Masalahnya semburan lumpur bukan sekedar menggenangi Desa Kedungbendo, Tanggulangin.

Data Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) s/d 2015 atau sembilan tahun paska semburan pertama berlangsung, Lumpur Lapindo telah menenggelamkan 16 desa di tiga kecamatan Sidoarjo. Lumpur telah merusakkan 21. 260 unit rumah rusak serta membuat 38.149 jiwa pindah.

Diluar itu, banjir sudah merusak beberapa perusahaan serta industri. Menteri Pekerjaan Umum serta Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono waktu lalu sudah pernah menjelaskan ada 30 unit usaha dalam peta ruang terimbas yang hancur karena kubangan Lumpur Lapindo. Berdasar prediksi luas tanah dari 30 unit usaha itu per Maret 2007 sampai 475.516 mtr. persegi. Keseluruhan nilai jual beli tanah itu direncanakan sampai Rp542,75 miliar.

Selain itu untuk bangunan, direncanakan luasnya sampai 66.222 mtr. persegi dengan nilai jual Rp158,92 miliar.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas sudah pernah memprediksi kubangan Lumpur Lapindo telah menyebabkan kerugian ekonomi yang lumayan besar. Prediksi mereka, musibah itu sudah menyebabkan kerugian ekonomi s/d Rp27,5 triliun. Kerugian belum mempertimbangkan efek lainnya.

Kerugian itu berupa langsung sebesar Rp7,3 triliun, tidak langsung Rp16,5 triliun serta ongkos relokasi infrastruktur sebesar Rp3,7 triliun. Negara juga memberikan budget seputar Rp11 triliun untuk mengatasi musibah itu. Budget digelontorkan oleh pemerintah pada Tubuh Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) sepanjang periode 2006-2018. Tidak hanya oleh negara, ongkos besar juga dikeluarkan oleh Lapindo Brantas, perusahaan yang dipandang bertanggungjawab atas semburan lumpur itu.

Lewat laporan bertopik Efek Sosial Gunung Berapi Lumpur Lapindo yang paling akhir diperbaharui April 2014, mereka mengaku telah memberikan Rp8,5 triliun untuk penanggulangan musibah itu.

Dana dikeluarkan untuk pertolongan Sosial Rp866 miliar, penanggulangan semburan serta saluran lumpur Rp3,32 triliun, pergantian tanah serta bangunan Rp3,8 triliun, pertolongan untuk usaha Rp49,6 miliar, serta pertolongan operasional Rp524,8 miliar

Walau memunculkan efek serta kerugian ekonomi yang lumayan besar, sampai sekarang ini unsur yang menyebabkan berlangsungnya semburan Lumpur Lapindo itu masih diperdebatkan. Lapindo Brantas Lewat laporan bertopik Efek Sosial Gunung Berapi Lumpur Lapindo berkeras jika musibah Lumpur Lapindo tidak dipacu oleh kegiatan pengeboran yang mereka kerjakan. Musibah itu klaim mereka berlangsung sebab kegiatan bumi yang dipacu oleh gempa di Yogyakarta dua hari awalnya.

“Sepanjang lima tahun terakhir, komune ilmiah global sudah memperdebatkan beberapa hipotesa tentang pemicu semburan lumpur itu, tetapi belum pernah sampai rangkuman bundar,” kata mereka dalam laporan itu.

Selain itu, hasil pengambilan suara dari pakar geologi minyak bumi internasional penjuru dunia, terhitung pakar geologi Kampus Surham Profesor Richard Davies dalam satu pertemuan internasional yang diadakan di Cape Town, Afrika Selatan pada 2008 lalu sejumlah besar mengaitkan jika Lumpur Lapindo dikarenakan oleh kegiatan pengeboran minyak yang dikerjakan di dekat pusat semburan.

Opini seirama dikatakan oleh Manager Kampanye Perkotaan, Tambang, serta Energi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Dwi Sawung. Menurut dia, musibah Lumpur Lapindo memang disebabkan oleh kegiatan pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas.

Dia menjelaskan rangkuman yang diambil; semburan Lumpur Lapindo berlangsung karena kegiatan bumi yang berlangsung karena gempa Yogyakarta yang berlangsung dua hari sebelum lumpur menyembur begitu jauh serta tidak logis. Atas permasalahan itu, Walhi sudah sempat ajukan tuntutan perdata pada Lapindo ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam tuntutan itu mereka minta pengadilan memerintah Lapindo Brantas bertanggungjawab memberi ubah rugi pada warga serta kehancuran lingkungan sejumlah Rp33 triliun yang disebabkan oleh musibah itu.

Mereka minta pengadilan memerintah Lapindo Brantas bertanggungjawab tutup semburan lumpur serta memikul ongkos yang dibutuhkan untuk tutup semburan.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *