Seputar Bahaya Film Joker Secara Psikologi

Seputar Bahaya Film Joker Secara Psikologi

Berita Terbaru Film Joker yang tampil semenjak 2 Oktober lalu jadi pembicaraan hangat netizen. Ketertarikan pemirsa yang membludak memunculkan tanggapan positif atau negatif. Figur Arthur Fleck yang bertransformasi menjadi figur Joker yang psycho menjadi diperdebatkan untuk dilihat sebab akan berpengaruh buat mental seseorang.Nyatanya film Joker ini tidak baik untuk semua golongan. Menurut Doktor Psikologi Dedy Susanto, menjelaskan jika film Joker berdampak buruk untuk golongan tertentu. Kenapa demikian? Silahkan baca penjelasannya.

Seputar Bahaya Film Joker Secara Psikologi

Tidak dianjurkan untuk pasien mental illness
Film Joker yang menghipnotis ini menurut Dedy Susanto beresiko untuk pasien mental illness. Orang yang alami moodswing, peka, bipolar, flat feeling, kasar, anxiety (kekhawatiran) dianjurkan tidak untuk menontonnya. Ini di kuatirkan akan jadi parah keadaan mental pasien mental illness.

Bercerita Joker dengan kompleksnya persoalan kehidupan serta keadaan kejiwaannya
Film ini memvisualisasikan bagaimana Arthur yang tidak berhasil dalam karirnya jadi standup comedian, tidak dihargai oleh orang seputar, alami Pseudobulbar Affect (PBA), dan delusi -mengencani tetangganya, akrab dengan tokoh selebriti Murray- dan keadaan ibunya yang alami masalah mental membuat keadaan psikologis Arthur jadi benar-benar kompleks.

Ini tentu saja banyak dirasakan oleh beberapa orang mengenai karier yang tidak berhasil serta tidak dihargai tetapi pada seorang yang alami mental illness bisa menghidupkan kejadian buruk serta pengalaman traumatisnya.

Pendoktrinan pura pura bahagia semenjak kecil
Penny Fleck, ibu dari Arthur yang alami masalah mental terus mendoktrin Arthur selalu untuk tampilkan tawa di mana saja serta kapan saja. Ditambah Arthur yang mempunyai mental illness yaitu Pseudobulbar Affect (PBA) yaitu masalah emosi yang membuat penderitanya bisa tertawa atau menangis tidak pada waktunya. Yang dirasakan Arthur saat terjadi suatu hal yang menyedihkan, reaksi yang berlangsung pada otaknya bukan rasa sedih tetapi tawa.

Semestinya semenjak kecil anak dibebaskan mengekspresikan apa yang dirasakannya serta orang-tua melatih bagaimana mengemukakan emosinya secara baik. Tetapi bila semenjak kecil didoktrin untuk pura-pura bahagia, karena itu cedera batin semenjak kecil akan menumpuk serta akan meledak sesuai dengan bom waktunya kelak seperti dalam Arthur menjadi figur Joker.

Dunia tidak menerima secara baik orang yang alami mental illness
Persoalan kehidupan yang membuat Arthur terguncang jiwanya ditambah lagi keadaan mentalnya membuat Arthur bertransformasi jadi figur Joker yang jahat sebab lingkungan tidak menerimanya. Joker merasakan ada kenikmatan batin saat membalaskan dendam dengan sadis.

Walau sebenarnya seseorang yang alami mental illness benar-benar memerlukan suport yang besar dari orang sekelilingnya. Hingga nuansa dalam film ini tidak baik untuk pasien mental illness yang sedang berusaha untuk pulih.

Film ini tidak baik untuk konsistensi jiwa
Joker yang lakukan balas dendam sebab menganggap kebaikannya tidak dihargai oleh warga serta keadaan mentalnya yang tidak diterima oleh lingkungan membuat jadi jahat. Walau ada yang memandang Joker jadi figur pahlawan sebab membalas ketidakadilan yang diterimanya tetapi balas dendam dengan pembunuhan tidak baik. Sekalipun alasannya ia memandang dirinya jadi korban.

Tentu saja ini beresiko buat kondisi psikologis seseorang. Dampak setelah melihat film ini di kuatirkan akan alami mood swing serta parahnya bisa mengikuti apa yang dilakukan Joker saat mengalami hal sama.

Wah harus selektif ya dalam memilih film yang akan kita saksikan sebab otomatis akan memengaruhi keadaan mental kita. Bila kamu sedang berusaha melawan mental illness, dianjurkan jangan melihat film ini ya.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *