Mengapa Tali Sepatumu Seringkali Lepas Biarpun Diikat?

Mengapa Tali Sepatumu Seringkali Lepas Biarpun Diikat?

Berita Terbaru Cenderung tali sepatu mendadak terlepas dengan ajaib menimbulkan frustasi yang sama pada kita, tetapi beberapa periset sekarang sudah temukan jawaban ilmiah dibalik misteri ini; semua terkait dengan injakan, hentakan serta ayunan/cambukan. Kenyataannya, riset menunjukkan jika style yang berlangsung pada tali sepatu terikat mungkin saja tambah lebih besar dibanding yang dirasa manusia pada rollercoaster yang paling ekstrem sekalinya. Jadi tidak bingung jika tali itu akan lepas.

Gaya yang seperti apakah yang dimaksud dalam riset ini? Semua akan diterangkan dengan lengkap di sini!

Mengapa Tali Sepatumu Seringkali Lepas Biarpun Diikat?

Riset dilakukan pada orang yang lari di atas treadmill atau kaki mekanis”robot” yang diayunkan
Untuk tahu akar persoalan misteri terlepasnya tali sepatu, beberapa periset dari University of California, Berkeley, pelajari baik pelari di atas treadmill atau kaki mekanis terprogram yang berayun serta menghentak seperti kaki kita dapat sebagai wakil kegiatan bergerak kita. Mereka temukan gabungan beberapa style pada ujung tali sepatu yang mengakibatkan talinya lepas sendiri dari ikatannya – meskipun kamu betul-betul jaga kerapatannya. Sekalipun telah merenggang, tidak akan berhenti sampai talinya lepas.

Lepasnya tali sepatu itu seringkali mendadak serta tidak terduga, khususnya setelah beberapa langkah mantap yang kita lakukan
Oliver O’Reilly menjelaskan dalam wawancaranya dengan Hannah Devlin dari the Guardian jika memang tidak dapat disangka kapan terjadinya serta ketika sudah terjadi, dalam dua atau tiga tekanan , buyar lah telah, pada akhirnya terlepas. Kamu juga butuh mengikat lagi tali sepatumu.

Saat kita lakukan lari pagi keliling kompleks atau lari memburu angkutan, kaki kita dapat menghajar tanah sampai 7 kali dari style gravitasi, ini lah yang diketemukan beberapa periset dalam observasinya. Hal itu mengakibatkan ujung dari tali sepatu kita berayun-ayun – tetapi yang berlangsung sebetulnya ialah tali itu meregang serta kembali berkali-kali bersamaan kita lari atau berjalan secara cepat.

Dengan kata lain, gaya gravitasi serta gerakannya menarik ujung tali sepatu seperti yang dapat dikerjakan oleh tangan kita
Bersamaan dengan kaki berayun ke atas, tali-tali sepatumu tertangkap oleh gaya/peristiwa inersia yang kerja menantang gerakanmu, tersalur selama ujung tali ke ujung satunya. Baik itu kaki yang menghajar tanah atau ayunannya itu yang mengakibatkan ikatan talinya meregang serta tanpa ada diakui, kamu telah berupaya untuk tidak terjegal tali sepatumu sendiri yang lepas.

Beberapa periset temukan jika menghentakkan sepatu dalam kondisi lepas atau mengayunkan kaki waktu duduk di bangku tidak mempunyai dampak yang sama, jadi ini cuma berlaku pada kegiatan lari (atau berjalan) serta gabungan gaya tersendiri sebagai kuncinya. Riset ini meneliti ketidaksamaan di antara satu type simpul dengan type simpul yang lain. Mereka temukan jika beberapa macam simpul cuma dapat bertahan setengah dari simpul mati biasanya sementara ada jenis simpul lain yang tetap tidak berhasil serta lepas secara cepat.

Berdasarkan data, simpul yang kuat itu memang tertera lebih tahan pada tekanan gaya saat kaki kita menghajar tanah – tetapi untuk ini, tim periset belum meyakini seutuhnya
Beberapa periset menjelaskan jika kita dapat belajar semakin banyak hasil dari riset ini tidak hanya dari sebegitu seringkali kita butuh mengikat lagi tali sepatu dalam unit waktu tersendiri. Hal itu dapat perdalam pandangan kita pada beberapa simpul penting pada pengetahuan sains, dari mulai mekanika kuantum sampai DNA.

Christoper Daily-Diamond, jadi satu dari periset menjelaskan jika saat kamu mengulas masalah susunan bersimpul, kamu butuh mengawali pemahamannya dari tali sepatu, karena itu kamu bisa mengimplementasikannya pada hal-hal lain, seperti DNA atau struktur-mikro, yang tidak berhasil melawan gaya dinamis.

Dia memberikan tambahan jika ini langkah awal untuk mengerti fakta beberapa simpul lebih baik dibanding simpul yang lain, yang tidak pernah dilakukan awalnya. Riset ini dipublikasi dalam Proceedings of the Royal Society A.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *